The Scope Assumption Problem: "Kalau Gue Belum Tau, Berarti Belum Dikomunikasiin"
Insight dari dunia nyata engineering & organizational dynamics.
Pernah nggak lo share update penting ke tim, terus ada yang langsung nanya:
"Eh, divisi lain udah tau belum ini?"
Pertanyaan yang terkesan peduli dan proaktif. Tapi kalau lo trace lebih dalam — seringkali pertanyaan itu lahir dari satu asumsi yang keliru.
Asumsi itu adalah: kalau gue belum tau, berarti informasinya belum nyampe ke orang yang harus tau.
Gw sebut ini The Scope Assumption Problem.
Apa Itu Scope Assumption Problem?
Scope Assumption Problem terjadi ketika seseorang menggunakan awareness mereka sendiri sebagai proxy untuk mengukur seberapa jauh sebuah informasi sudah dikomunikasikan.
Logika yang terbentuk kira-kira seperti ini:
Gue belum tau
→ Berarti orang lain juga belum tau
→ Berarti komunikasinya belum terjadi
→ Berarti ada yang salah
Padahal kenyataannya, komunikasi itu terjadi di berbagai level. Ada informasi yang memang sengaja dikomunikasikan ke level tertentu dulu — lalu didistribusikan ke bawah oleh orang yang tepat, di waktu yang tepat.
Ilustrasi Nyata
Bayangkan lo adalah seorang engineer di sebuah perusahaan besar. Ada rapat koordinasi IT yang dihadiri oleh manager lintas divisi — termasuk manager dari divisi core, divisi webapp, bahkan sampai level C-suite.
Setelah rapat, lo share update ke tim lo tentang arah strategis yang dibahas.
Salah satu anggota tim lo langsung nanya: "Eh, divisi core udah tau ini belum?"
Kelihatannya pertanyaan yang wajar. Tapi kalau lo pikir ulang:
- Manager divisi core hadir langsung di rapat tersebut
- Informasi sudah dikomunikasikan di level yang tepat
- Distribusi ke tim core adalah tanggung jawab managernya, bukan lo
Pertanyaan tadi bukan pertanyaan yang buruk — tapi ia lahir dari blind spot yang cukup umum: si penanya tidak punya gambaran tentang siapa yang ada di ruangan itu dan di level mana keputusan itu dibuat.
Kenapa Ini Terjadi?
Ada beberapa faktor yang biasanya jadi akar masalahnya:
1. Kurangnya Organizational Awareness
Banyak engineer (bahkan yang senior sekalipun) fokus pada pekerjaan teknis mereka tanpa membangun pemahaman tentang struktur organisasi, siapa yang membuat keputusan, dan bagaimana informasi mengalir secara formal.
2. Information Silo Mindset
Ketika seseorang terlalu lama bekerja dalam satu tim atau satu domain, mereka secara tidak sadar mulai berasumsi bahwa dunia informasi = dunia yang mereka lihat sehari-hari.
3. Tidak Ada Mental Model tentang Hierarki Komunikasi
Tidak semua informasi dikomunikasikan ke semua orang sekaligus. Ada informasi yang mengalir top-down (strategic → tactical → operational). Kalau seseorang tidak paham pola ini, mereka akan selalu merasa ada yang "ketinggalan."
Dampaknya ke Tim
Scope Assumption Problem yang tidak diaddress bisa berdampak lebih jauh dari sekadar pertanyaan yang salah arah:
Noise dalam diskusi
Meeting jadi terganggu karena membahas hal-hal yang sebenarnya sudah beres di level lain.
Distrust yang tidak perlu
Anggota tim mulai meragukan apakah lead atau manager "sudah benar-benar mengkomunikasikan ke semua pihak."
Scope creep di level mikro
Orang mulai merasa perlu ikut campur di domain yang bukan tanggung jawabnya.
Solusinya: Build Organizational Context
Sebagai engineer atau tech lead, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
1. Saat share informasi, sertakan konteks sumbernya
Jangan cuma share apa-nya, tapi juga dari mana informasi itu datang dan siapa yang sudah terlibat dalam prosesnya. Contoh: "Ini update dari rakor IT tadi, yang hadir ada manager semua divisi."
2. Bangun pemahaman tim tentang struktur organisasi
Sesekali, ajak tim memahami bagaimana keputusan dibuat dan bagaimana informasi mengalir di organisasi. Ini bukan buang-buang waktu — ini investasi supaya tim bisa interpret informasi dengan benar.
3. Tanyakan "what's the actual concern?" sebelum menjawab
Kalau ada yang nanya "divisi lain udah tau belum?", jangan langsung defensif atau langsung jawab. Tanya dulu: "Ada dependency spesifik yang lo khawatirin?" — seringkali di balik pertanyaan itu ada concern teknis yang valid, hanya saja dibingkai dengan cara yang kurang tepat.
Takeaway
Awareness seseorang tentang sebuah informasi bukan indikator seberapa luas informasi itu sudah dikomunikasikan.
Di organisasi yang kompleks, informasi bergerak di banyak jalur secara paralel. Tugas kita sebagai engineer — dan terutama sebagai tech lead — bukan hanya menyampaikan informasi yang benar, tapi juga membantu tim memahami konteks di mana informasi itu hidup.
Karena pada akhirnya, tim yang punya organizational awareness yang baik akan lebih jarang mempertanyakan hal yang salah — dan lebih sering fokus pada hal yang benar-benar penting.
Tulisan ini terinspirasi dari pengalaman nyata dalam rapat koordinasi IT lintas level organisasi. Nama dan detail spesifik disamarkan.